Minggu, 05 April 2009

modal dariNya tak sepenuhnya menjadi hartaku


Berharap……berharap….terus berharap……

Apakah tak ada usaha? huh…pastilah ada….tapi apa dayaku yang belum bisa berusaha? Apakah itu adalah salah dari pihak-pihak tertentu?

Jelasnya tidak!!! Tak ada yang patut disalahkan atas semua ini. Mungkin nanti ketika aku lebih siap, aku dapat berusaha dengan baik.

Suatu ketika aku memandang seseorang yang berada dalam kehampaan, sama sepreti aku. Aku terus memandangnya, dan aku melihat dia sedang mengisi kehampaan hidupnya. Dia membawa banyak barang yang digenggam oleh kedua tangannya. Tanpa berpikir, dia langsung memasukkan semua itu kedalam hampanya. Saat kulihat lebih dekat lagi, aku menemui bayangan yang kelam melangkah didepannya.

Ada pula dalam ingatanku, saat memandangi orang yang sedang bimbang dengan apa yang digenggamnya. Dia berpikir keras untuk memilih hal baik guna mengisi kehampaannya. Tapi saat aku berusaha mendekatinya juga, mataku memberikan tanda tentang keberadaan bayangan yang berkelok-kelok tak menentukan suasananya.

Dalam pikirku, apakah bayangan itu dapat berbicara? Beberapa saat setelah pikiran tadi terbesit di dalam otakku. Aku mendengar suara samar-samar. Lalu aku coba mendekati sumber suara itu, aku dengar bayangan-bayangan itu berbicara panjang lebar. Bayangan kelam itu menggilku, dia inginkan aku mendekat padanya. Setelah aku mendekat.Dia berkata,”apa kau pernah melihat bayangan yang cerah?”

Tentu saja dengan spontan aku menjawab, ” TIDAK ! Mana ada bayangan yang seperti kau katakan? bukankah kalian ini berwarna gelap?”

Dengan penuh ketenangan dan memberikan ekspresi yang dingin. Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

Beberapa saat setlah itu, bayangan dari orang bimbang tadi menghampiri kami. Dengan sesegera mungkin dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan bayangan kelam tadi.

“Ya, aku lihat pernah melihat bayangan cerah itu.” Sahutnya dengan penuh keyakinan. Kemudian dia menyuruhku untuk memalingkan diriku dari mereka. Saat mereka berkata, “Pandanglah lurus kedepan dan biarlah jalan, yang berpondasikan dari aturan Tuhan, menempatkanmu dalam tubuhnya.

Maka, saat kau bertuju pada jalan itu, kau akan melihat bayanganmu menjadi lebih cerah dari waktu ke waktu.

Aku mulai mendekati jalan yang mereka ceritakan tadi. Sebisa mungkin aku menuju jalan itu, dan saat aku memandang bayanganku sendiri. Aku lihat dia tersenyum dan senyumnya terus melebar saat langkahku mulai dekat dengan jalan itu. Dalam waktu yang cukup lama, akhirnya aku sampai di jalan itu.

Aku lihat lagi bayanganku. Aku terus menatapnya dengan hati gembira. “Ternyata mereka benar.” seruku dalam hati. Sambil memandang senyumnya yang melebar, aku juga melihat percikan kilau cahaya yang terang.

Kemudian aku tetapkan pandanganku kedepan dengan sesekali kulihat arah belakang, agar tidak ada kesalahan yang ku ulang, aku terus berjalan….berjalan…dan berjalan.

Bila ada kesempatan untuk berlari, tanpa ragu aku gunakan kesempatan itu dengan penuh kehati-hatian, aku menuju kearah yang ku inginkan.

Aku berusaha mendekatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar